Wednesday, September 06, 2006

SAMBUTAN KETUA BPS GEREJA TORAJA

Pada Acara Penutupan SSA XXII, Sabtu, 8 Juli 2006

Di Gedung Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Ketika hari ini, saya, kami, semua Badan dilantik, seorang sahabat saya yang paling dekat, Yohanis Sesa Makay, dulu sama2 sekolah, sama-sama tamat, dan kemudian meninggal juga ... meninggal juga di dalam tangan saya tadi pagi. Saya tadi pagi masih sempat mengguncang-guncang badannya kemudian mengangkat kepalanya terus dibawa ke rumah sakit. Tetapi nyawanya tidak tertolong lagi. Hampir juga Pdt. Musa Tandiboyong ikut serta. Tetapi syukurlah masih bisa ditolong dan dibawa ke rumah sakit. Seperti yang telah disampaikan Ketua Panitia, ada yang menyedihkan dan ada yang menggembirakan.

Atas nama seluruh peserta sidang dan seluruh warga Gereja Toraja menyampaikan terima kasih dan penghargaan yg setulus-tulusnya kepada Panitia Pelaksana, kepada Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta, dan jemaat-jemaat yang ada di Pulau Jawa, atas segala pelayanan, makanan yang enak-enak dan daging yang banyak. Karena makan makanan yang enak-enak dan daging yang banyak maka kadang-kadang darah naik, orang suka berbicara dan interupsi banyak sekali. Itulah demokrasi tertinggi. Masih ada interupsi, msh ada kata-kata yang terlalu tinggi dosisnya; kalau tidak mau dikatakan terlalu kasar, katakan saja terlalu tinggi dosisnya. Tetapi setelah selesai maka semuanya berpelukan untuk saling menerima satu dengan yang lain. Inilah istimewanya gereja dan inilah istimewanya orang percaya.

Saudara-saudara, kami semua Badan yang terpilih menyatakan terima kasih atas kepercayaan yang diletakkan di pundak kami. Saya bahagia bersama mereka semua, tetapi juga lalu kami bertanya kepada diri kami masing-masing, ”Apakah kami mampu mengusung kerinduan yang begitu besar tumbuh di dalam diri kita semua untuk membarui Gereja Toraja?”

Kita berkumpul di rumah Toraja paling besar di dunia, saat ini memuat ratusan pendeta. Kita berharap dari rumah besar ini banyak berkat mengalir ke seluruh pelosok di desa-desa, di mana Gereja Toraja melayani. 15% dan 30%. 30% jemaat pedesaan, 15% jemaat terpencil menantikan kehadiran kita sebagai Tubuh Kristus untuk saling membantu, terutama memperhatikan yang paling lemah. Adalah salah, bila kita sebagai Tubuh Kristus berkata inilah jemaat kami, kadang-kadang saya katakan, ”Mendamo umbenni jemaat to?” Ini jemaat-Nya Yesus Kristus. Lalu kalau jemaat Yesus Kristus, maka Yesus Kristus meminta kita untuk memberika perhatikan kepada yang paling lemah di antara kita. Kalau yang paling lemah kita perhatikan maka itulah pembaruan yang sesungguhnya.

Terima kasih kepada semua rekan di BPS Gereja Toraja yang bekerja bersama selama 5 (lima) tahun, tetapi melalui SSA XXII ini Tuhan akan mengarahkannya ke pelayanan-pelayanan yang mulia. Percayalah, kami sangat merindukan saudara-saudara semua, kami banyak berhutang dari saudara-saudara semua, kami banyak membuat hal-hal yang tidak berkenan bagi saudara-saudara semua. Pada saat ini kami menyatakan dengan setulus-tulus hati kami, permohonan maaf.

Juga atas nama seluruh peserta sidang, kami menyatakan permohonan maaf setulus-tulusnya kepada Panitia Pelaksana, kepada jemaat-jemaat dalam lingkungan Klasis Pulau Jawa jika kami terlalu banyak mengomel, kami terlalu banyak bicara sehingga sidang harus menjadi lebih lama; juga karena tutur kata yang tidak terlalu menggambarkan kehidupan kekristenan.

Kami bahagia melihat Jakarta, melihat teknologi canggih, melihat wajah-wajah dari PWGT yang berpakaian seragam dan semuanya cantik sekali. Dan bangga sekali melihat anak-anak muda yang cakap-cakap, sangat terampil, dan berkomitmen bagi pelayanan gereja. Terima kasih. Kita akan menjalani 5 (lima) tahun ke depan dengan semua potensi yang kita miliki masing-masing. Kami harap yang kaya dapat terus membantu dan yang miskin jangan selalu meminta-minta.

Kita saling mendoakan kiranya Tuhan menolong kita. Terima kasih dan sampai jumpa di SSA XXIII.

SAMBUTAN KETUA PANITIA SSA XXII GEREJA TORAJA

Pada Acara Penutupan SSA XXII, Sabtu, 8 Juli 2006

Di Gedung Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta

Saudara-saudara,

Kita sangat sedih dengan terjadinya kehendak Tuhan untuk memanggil pulang seorang hamba-Nya, Pdt. J.S. Makay. Walaupun memang kita sangat sedih, tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus bersukacita dalam segala hal. Hari ini sungguh-sungguh kita patut bersyukur karena Allah kita Allah yang besar, Allah kita adalah Allah yang mahakasih, Allah kita adalah Allah yang tidak pernah ingkar janji. Dalam beberapa saat ini, pada penghujung dari SSA XXII ini, tidak lain yang ingin saya katakan adalah: Puji Tuhan! Puji Tuhan! Kehendak Tuhanlah yang jadi sehingga kita syukuri bahwa panitia jemaat penghimpun yaitu Jemaat Kota, Klasis Pulau Jawa, Wilayah IV, semuanya bekerja begitu bersatu untuk mendukung pelayanan pelaksanaan SSA XXII. Saya sungguh heran, saya SUNGGUH heran, bahwa Tuhan telah menuntun kita sampai kepada selesainya acara yang besar ini. Saya sungguh heran bahwa yang dulu kami perkirakan, wah akan sulit sekali, ternyata Tuhan sudah menuntun para Pimpinan untuk memimpin sidang dengan baik. Puji Tuhan. Tuhan sudah memimpin PWGT menyajikan makanan yang luar biasa. Tuhan sudah menuntun PWGT dan pemuda pemudi kita terlibat tanpa pamrih siang malam tidak tidur untuk menyukseskan seluruh acara persidangan. Tuhan sudah menuntun sehingga apa yang kita butuhkan diberi lebih dari yang kami minta. Pak Aris Parinding, bendahara panitia menunjukkan kepada saya catatannya. Dulu kami berdoa supaya Tuhan memberikan kami 1,5 milyar. Tuhan memberi lebih dari itu. Itu adalah suatu kesaksian dari panitia. Dulu kami berdoa minta tenaga-tenaga muda terampil membantu dengan segala kemampuan mereka tanpa imbalan. Kepada seluruh jemaat se-Klasis Pulau Jawa, terima kasih, seluruh yang telah membantu panitia, terima kasih, seluruh pimpinan, kami ucapkan terima kasih. Puji syukur kepada Tuhan.

Tetapi kita tidak menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan. Kita menyaksikan bagaimana masih ada kata-kata yang masih kita sesalkan di dalam persidangan gerejawi kita. Kita memang mengalami kekurangan waktu sehingga tertunda sampai saat ini. Tadi malam banyak yang tidak tidur, terutama Pimpinan Sidang dan Panitia yang menghitung hasil pemilihan sampai tuntas.

Saya ingin mengatakan, semua yang menjadi persoalan, sayalah yang tanggung. Saya minta maaf untuk semua kekurangan. Tadi malam saya tidak bisa membayangkan bagaimana masih dapat mengadakan ibadah penutupan dengan Perjamuan Kudus di dalam suasana ketika semua sudah begitu kelelahan. Ternyata Tuhan menghendaki kita geser penutupan pindah ke tempat ini. Ibu-ibu dan Bapak-bapak sendiri dapat menyaksikan bagaimana gereja yang susah payah kita bangun ini di dalamnya untuk pertama kali ditampung ratusan pendeta. Kita mengucap syukur.

Sekali lagi, kalau ada kesalahan saya yang tanggung. Pulanglah dengan damai sejahtera supaya dengan demikian Ibu-Bapak sebagai pelayan-pelayan Tuhan benar-benar diutus, ya untuk melakukan pembaruan di tempat masing.

Selamat melayani kepada seluruh pejabat BPS, BV, MP Gereja Toraja yang telah dipanggil oleh Tuhan dalam SSA XXII ini, saya dengar juga nama saya ikut di dalamnya, ya saya terima karena ini adalah panggilan Tuhan.

Perkenankanlah saya, pada saat ini, untuk menyatakan, atas nama seluruh panitia, atas nama seluruh jemaat penghimpun, klasis: KAMI TIDAK AKAN BERHENTI UNTUK MENGUSUNG PEMBARUAN YANG TELAH KITA GUMULI DAN PUTUSKAN BERSAMA. Oleh karena itu dalam rangka melaksanakan salah satu keputusan kita, saya akan menyerahkan secara simbolis kepada Ketua BPS uang sebanyak 150 juta untuk menambah, sesungguhnya sudah ada di BPS termasuk yang darr YPTh, 200 juta, sehingga menjadi 350 juta. Kita sudah memutuskan supaya para pendeta diberi kesempatan untuk studi dan mengalami pelatihan-pelatihan melalui Institut Teologi. Semoga itu adalah perjalanan pembaruan kita semua.

Terima kasih, selamat jalan, selamat melayani, selamat membarui. Mari kita jangan kita lupa pembaruan dari diri kita masing-masing. Kurre sumanga’. Dan dengan ini saya akan meyerahkan secara simbolis uang 150 juta kepada Ketua BPS yang baru.

J.L. Parapak

SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA PDT. YOHANIS SESA MAKAY

Ditulis oleh Pdt. I.Y. Panggalo

Berdasarkan Penuturan Pdt. Musa Salusu dan Pdt. Soleman Batti’

Sekitar jam 7.30, Pdt. M. Salusu melihat Pdt. J.S. Makay sedang duduk sendirian di ruang makan, dekat meja yang menjadi meja Pimpinan Sidang tadi malam. Pdt. M. Salusu pergi ke meja yang sama. Pada saat Pdt. M.Salusu sudah duduk dan mengirim SMS, Pdt. J.S. Makay berdiri dan berkata kepadanya, ”Uru’-uru’pa’ sidi’ Uca!” (Uca adalah panggilan akrab Pdt. M. Salusu di antara teman-temannya di Makassar). Lalu menarik dua kursi dan mengaturnya sampai bisa menjadi tempat yang baik untuk diurut. Setelah duduk, dia minta Uca mengurutnya. Sambil mengangkat kedua tangannya untuk diurut oleh Uca, dia berkata, ”Saya rasa tidak enak badan, mungkin karena tadi malam tidak tidur lalu mandi pagi tadi”. Sementara Uca mengurut bagian bahu dan tengkuknya, terdengar suara seperti dengkuran. Keringat mengalir dari sekujur tubuhnya. Uca khawatir. Meraba bagian kepala, tangan, dada, dan kaki. Semua sudah terasa dingin seperti, maaf, seperti jenazah. Lalu spontan teriak, ”Tolong, panggil dokter. Dokter.” Yang pertama mendengar permintatolongan itu ialah Ny.M.Bandaso’, yang segera datang ke tempat Pak Makay berada. Uca segera bergerak mencari dokter. Ny.M.Bandaso’ pun memanggil-manggil minta tolong. Waktu lihat Pdt. S.Batti’, beliau berseru, “Pak Batti’, cepat tolong, Pdt.Makay meninggal!” Pak Batti’ segera berlari menuju tempat Pdt. Makay terduduk di kursi. Waktu itu Ny. Martha Sampe juga datang dan ikut menolong. Lalu mereka mengangkat Pak Makay ke meja. Pak Batti’ langsung menggoyang-goyang badan Pak Makay sambil berkata, “Mengkilalako sang mane”. “Mengkilalako sang mane”. Kemudian datang juga Ny. Debora Paranoan (utusan dari Klasis Kaltim Samarinda), yang adalah seorang suster, segera berusaha menolongnya dengan pernafasan buatan. Pertolongan itu berhasil membuat Pak Makay bernafas kembali.

Uca tidak berhasil menemukan seorang dokter. Tetapi berhasil menyiapkan mobil ambulans. Panitia memang selalu menyiagakan sebuah mobil ambulans selama berlangsungnya SSA XXII. Pak Makay segera diangkat masuk ke mobil ambulans oleh Pdt. M. Salusu, Pdt. Barnabas dari Bonebone, dan Pdt. Karia dari Sukabumi. Ketiga pendeta ini mengantar Pak Makay ke RS UKI. Di dalam ambulans, beliau dipasangi Oksigen (O2) oleh Suster Debora Paranoan. Sementara dalam perjalanan menuju RS, Pak Makay sempat sadar dan minta air. Lalu diberi minum air aqua. Beliau juga mengucapkan berulang-ulang, “O Yesus, tolong saya! O Yesus, tolong saya!”. Di RS UKI, beliau diterima di UGD. Setelah persyaratan administrasi selesai, Pak Makay langsung dibawa masuk ke ruang ICU atas kerja sama dr. Yunus Tanggo. Tetapi kehendak Tuhan selalulah yang terbaik untuk kehidupan setiap orang. Semua usaha dokter dan perawat di ICU sudah maksimal dan berkesimpulan tidak bisa tertolong lagi. Akhirnya, teman-teman pendeta yang hadir (termasuk Pdt. D.Y. Saranga’ yang menyusul datang mengantar Pdt. Musa Tandiboyong yang juga sakit dan dibawa ke RS UKI), mendoakannya. Doa penyerahan. Mereka berdoa sambil menangis. Sekitar pukul 09.30, beliau menghembuskan nafas terakhirnya diiringi doa para sahabat, baik yang di ICU RS UKI, maupun yang enam ratusan orang sedang mengikuti ibadah penutupan SSA XXII di gedung Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta.

Kita berdoa, ”Tuhan, kuatkan dan hiburkanlah kami, terutama istri, anak-anak, dan segenap keluarganya!” Sebagai orang percaya, kita sejatinya berkata seperti Ayub, ”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

Saudara kita, Pdt. Yohanis Sesa Makay, meninggal di saat sedang melakukan tugas pelayanan dan pengabdiannya bagi Tuhan dan gereja-Nya, Gereja Toraja, bertepatan dengan pelaksanaan Ibadah Penutupan SSA XXII Gereja Toraja. Dalam ibadah ini diadakan Perjamuan Kudus. Di dalam Perjamuan Kudus, kita mengenang pengurbanan Tuhan Yesus Kristus. Dialah yang berkuasa, baik atas umat-Nya yang telah meninggal, maupun atas kita yang masih berjuang di dunia ini. Di dalam Yesus Kristus, kita dipersatukan dengan semua orang percaya yang telah meninggal.

Saturday, July 08, 2006

MEDISA - Majalah PPGT

Perubahan telah terwujud?

Perubahan yang didengung-dengungkan dan bahkan digumuli secara khusus oleh panitia SSA XXII selama dua tahun terakhir betul-betul telah menunujukkan hasil yang cukup signifikan. Perubahan itu nampak mulai dari antusiasme panitia pelaksana yang dimotori oleh pemuda yang tidak kenal lelah, bahkan sampai tidak tidur dan juga semangat dari peserta persidangan “Garis bawahi peran anak-anak muda yang sangat vital dalam kegiatan ini” kata Bapak Jonatan Parakpak yang ditemui MEDISA disela-sela jalannya persidangan SSA XII di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonsia Indah, Rabu, 5/6/06.

Lebih jauh Tokoh Masyarakat Toraja yang baru-baru diangkat menjadi rektor Universitas Pelita Harapan –UPH- ini mengemukakan signifikansi perubahan dalam sidang kali ini antara lain tercermin dari proyeksi waktu yang bisanya 10 hari, kali ini hanya ditarget 5 hari, dan memperlihatkan tanda-tanda bahwa hal tersebut akan tercapai. Disamping itu sepanjang persidangan juga tidak terdengar lagi kata-kata yang tidak sopan yang selama ini kerap mewarnai jalannya persidangan.

Menurut Parakpak semuanya ini –perubahan- boleh berlangsung karena pimpinan Tuhan, dan sekiranya hal ini dapat menuntun menuju pertumbuhan spritualitas Gereja Toraja, bahkan untuk jadi geraja lain. “saya melihat terobosan dari segi spiritualitas yang tercermin dari efisiensi dalam pengambilan keputusan dan kentalnya nuansa oriented pelayanan yang cukup kental dalam persidangan” ujar parakpak.

Senada dengan itu beberapa utusan yang ditemui Medisa merasakan perubahan yang cukup signifikan. Daud Pirade dari Balikpapan misalnya mengemukakan perubahan yang paling dia rasakan adalah pelaksanaan PA yang sangat menekankan perubahan yang diawali dari diri sendiri pribadi dan kelaurga “Saya kira salah satu yang sangat nampak adalah adalah dalam pemabahasan tatib yang hanya beberapa jam, dan juga dalam santun berbicara” ujar Daud, hal lain yang juga meninggalkan kesan mendalam bagi Majelis Gereja Jemaat Elim Balikpapan ini adalah peran pemuda dalam teknis pelaksanaan “ini perlu diteladani pada semua aras pelayanan, dan perlu majelis gereja lebih banyak “turun” dan bersama pemuda dalam persidangan dan pelaksanaan program mereka, sehingga tidak perlua ada benturan” Harap Daud.

Juni Pangalinan STh dari Jemaat Gunung Putri, Bogor juga sependapat dengan kesan adanya perubahan terutama tercermin pada jalannya persidangan yang sangat santun, yang diamini Pnt Ebenheser dari wilayah I Jemaat Maranata Patte’ne Palopo. Panatua yang juga ikut dalam SSA XXI di palopo ini menambahkan bahwa dia banyak terinspirasi oleh kata-kata bijak yang banyak dituliskan di sudut-sudut arena persidangan.

Nada berbeda disampaikan oleh Pdt Friber Mangiri STh, yang justru menyatakan perubahan hanya tinggal menjadi slogan, dan tidak melihat adanya signifikansi perubahan. Menurut pendeta yang bertugas di Wilayah I Palopo harapan yang terbersit ketika akan menuju SSA XXII ini adalah adanya perubahan pola pikir yang dimotori oleh TP3, demi pengembangan kehidupan berjemaat yang sudah ada, namun kenyataannya mulai dari rancangan tatib saja, sudah tidak mencerminkan perubahan tersebut, terbukti dari rancangan jumlah penasehat yang coba dipaksakan tidak sesuai dengan Tata Gereja Toraja, sehingga menyita waktu yang cukup lama.

Secara khusus alumni STT Intim Makassar ini menyoroti terbatasnya akses pemuda untu ikut dalam pengambilan keputusan, yang bertolak belakang dengan semangat keputusan SSA sebelumnya dimana menekankan perhatian lebih pada generasi muda.

Keluhan seragam muncul dari peserta menyangkut pelayanan teknis registrasi pada hari I yang harus berjam-jam berdesakan di depan meja sekretariat, mulai dari siang sampai jam 11 malam, bahkan ada yang hari kedua baru bisa memperoleh tanda pengenalnya. Walau demikian mereka juga memaklumi kesulitan tersebut, karena merupakan hal yang baru, mereka juga mengakui bahwa penggunaan alat canggih dalam persidangan sangat dirasakan manfaatnya.

Pemilihan Personil BPS

Pemilihan personil BPS periode 2006-2011 merupakan suatu sistim pemilhan yang sangat baru, yang dinamai sistim paket terbuka.

Dengan sistim yang disebut sebagai jalan tengah antara sistim paket yang ditawarkan oleh TP3 dengan sistim lama dengan pemilihan langsung. Dengan sistim baru ini penjaringan calon untuk 7 posisi BPS dilakukan sekaligus, dengan semua utusan yang memiliki hak suara mengisi nama-nama pada satu kertas.

Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk masing-masing posisi, bila pada perhitungan tersebut ternyata ada calon yang memiliki suara lebih besar dari ½ + 1, maka otomatis langsung terpilih.

Pada perhitungan pertama berjalan dengan lancar, karena Soleman Batti memperoleh suara 168 suara langsung terpilih menjadi ketua umum.

Hujan interupsi terjadi ketika terpilih 3 besar pada pemilihan ketua I, yakni Pdt. DR. Enrieette Lebang Hutabarat dengan 121 suara, Pdt. Parantean 49 suara dan Pdt. Simon Toding Allo 39 suara. Hanya ada dua yang menyatakan kesediaannya yakni Pdt. Eri dan Pdt. Parantean, sementara Siomon Toding mengundurkan diri.

Interupsi terjadi karena terjadi perbedaan pendapat, apakah akan dilanjutkan dengan pemilihan ketua terlebih dulu, ataukah dilanjutkan dengan penjaringan calon untuk posisi lain.

Yang meminta untuk dilakukan pemilihan langsung sebelum beralih kepenjaringan calon yang lain adalah karena menghindari kemungkinan 1 orang muncul sebagai calon 3 besar pada beberapa posisi, sehingga perlu terlebih dahulu diketahui siapa yang menjadi ketua 1, mengingat calon-calon yang diajukan sudah tidak akan berubah lagi.

Pendapat lain mengemukakan bahwa yang dilakukan saat itu adalah penjaringan calon, sehingga yang perlu dilakukan terlebi dahulu adalah menentukan semua calon terlebih dahulu, untuk selanjutnya dengan 1 kertas langsung dilakukan pemilihan pada semua posisi yang akan diisi. Akhirnya peserta persidangan menyepakati untuk melanjutkan dengan penetapan calon pada posisi lain, sebelum melakukan pemilihan secara serempak “ini adalah konsekuensi dari sistim paket terbuka yang telah kita sepakati” kata Duma Tandira’pak mewakili komisi Nominasi.

Pada penjaringan ketua II, Musa Salusu yang sebelumnay menjabat Ketua Wilayah IV, memperoleh suara sebesar 164 dengan demikian memiliki jumlah suara lebih besar dari ½ + 1 suara, sehingga otomatis terpilih menjadi Ketua II bidang Ketenagaan, Kegerejaaan, Penelitian dan Pengkajian.

Penjaringan calon ketua III Bidang partisipasi Gereja Dalam Pembangunan Bangsa, yakni dalam bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Masyarakat, Penatalayanan/Sarana Prasarana dan dana, ada tida nama dengan suara tertinggi yakni Ir. Jonatan Para’pak 83 suara, Prof Daud Malamassam 81 suara, dan Dr. Y Palimbong 30 suara. Ketika dimintai kesediaan, Pak Parakpak mengundurkan diri, Prof Malamassam bersedia, sementara Dr. Palimbong tidak berada dalam ruangan, sehingga Prof Malamassam langsung terpilih menjadi Ketua III.

Posisi sekretaris umum, Pdt Dr Indu Panggalo juga langsung memperoleh jumlah suara lebih dari ½ + 1, sehingga karena menyatakan kesediaannya, langsung terpilih sebagai Sekretaris Umum.

Tuesday, June 20, 2006

Yth. Wilayah I s/d IV Gereja Toraja

Salam Sejahtera dalam Nama Yesus Keristus’ 

Menyambung pemberitahuan kami sebelumnya dan Rencana Kedatangan Rombongan Peserta SSA 22 yang sudah kami terima maka sesuai hasil Rapat Panitia Pelaksanan SSA 22 tanggal 19 Juni 2006 kami sampaikan sebagai berikut:

I. Rombongan yang tidak disediakan jemputan adalah sebagai berikut:

- Rombongan BPS & Pimpinanan Sidang tgl 27 Juni 2006 (19 orang)

- Rombongan BPS tanggaal 2 Juli 2006 (12 Orang)

- Rombongan KALTIM Samarinda tanggal 2 Juli 2006 (16 orang)

- Rombongan KALTIM Balikpapan tgl. 2 Juli 2006 (11 Orang)

Alasan utama Rombongan kecil (dibawah 50 orang), para peserta dalam Rombongan-Rombongan tersebut dianggap sudah terbiasa datang ke Jakarta dan rata-rata tingkat ekonominya cukup tinggi

II. Rombongan yang disediakan Jemputan oleh Panitia adalah sebagai berikut

- Rombongan Wilayah III Makale tgl 29 Juni 2006

- Rombongan Wilayah I Luwu tanggal 29 Juni 2006

- Rombongan Wilayah II Rantepao tg. 30 Juni 2006

- Rombongan Wilayah I Luwu tanggal 30 Juni 2006

- Rombongan Klasis Pare-Pare tanggal 2 Juli 2007

- Rombongan Wilayah III Makale tanggal 3 Juli 2006

- Rombongan Klasis Makassar & Bone tanggal 3 Juli 2006

- Rombongan Klasis Palu tanggal 3 Juli 2006

III. Mohon supaya setiap Rombongan pada butir II menentukan “Kapten” masing-masing yang dapat menghubungi langsung petugas-petugas Panitia Pelaksana SSA 22 sebagai berikut:

  1. Pieter Batti Telp. 021 489.7730; 0811974591, atau
  2. Johanis Pongtuluran Telp. 021 472.1063; 0811011243; atau
  3. Daud Patintingan Telp. 021 458.48001; 08561031077; 081586047700 yang akan bertindak sebagai “Kapten” Tim Penjemputan

Supaya jemputan berjalan lancar, pada waktu akan naik pesawat (Boarding) “Kapten” Rombongan bersangkutan segera menghubungi “Kapten” Tim Penjemputan (Daud Patintingan) menyampaikan, Nama Pesawat Fligt Number, Jam Keberangkatan, Perkiraan Tiba (ETA) di Bandara Sukarno-Hatta. Atau petugas lain yang disebutkan Nomor teleponnya di atas untuk mengatur penjemputan dan penempatannya.

IV. Menyambung informasi sebelumnya, bagi para peserta yang ingin langsung menginap di Padepokan Pencak Silat tempat SSA 22 sebelum tanggal 3 Juli 2006, kami informasikan lagi bahwa biaya Penginapan dan makan ditanggung masing-masing peserta.

Family Room Rp. 250.000/5 Orang

VIP Room Rp 220.000/2 Orang

Makan Pagi Rp. 19.800/Orang

Makan siang Rp. 25.300/Orang

Makan Malam Rp. 25.300/Orang

Alternatif Tempat Makan yang lebih murah di Warung bagian Belakang Tembok Gedung Padepokan.

Penginapan dan makan ditanggung Panitia mulai tanggal 3 Juli 2006 s/d 8 Juli 2006

V. Para peserta Sidang yang akan di jemput oleh Keluarga di Jakarta agar masing-masing Keluarga menjemput mereka di Bandara Sukarno-Hatta atau di Padepokan atau di Lokasi lain yang akan ditentukan oleh Panitai.

Mohon bantuan yang menerima Informasi ini agar disampaikan ke Pimpinan Rombongan Wilayah I, II,III dan IV.

Tolonglah kami agar kami dapat membantu para peserta mengikuti Sidang SSA 22 yang Kudus ini, lancar dan aman. Terima kasih.

Jakarta, 20 Juni 2006

Salam Doa dari

Bidang Umum, Transportasi, Kesehatan dan Keamanan SSA22. Jakarta

.

Sunday, June 04, 2006

Yth. Para Utusan / Utusan Cadangan dan Para undangan
SSA 22 GT.
Salam sejahtera bagi semua

Kami teruskan informasi dari Bid. Akomodasi & Sarana
Panitia Pelaksana SSA 22. Bahwa para peserta Sidang
dapat saja datang dan langsung menginap di Padepokan
Pencak Silat sebelum tanggal 3 Juli 2006, dengan
persyaratan sebagai berikut:

1. Kamar (Family Room) Rp. 225.000 / 5 orang
Fasilitas : AC , TV. Tanpa peralatan mandi
2. VIP Room (double bed) Rp. 200.000 / 2 orang
Fasilitas: AC, TV. Termasuk fasilitas
peralatan mandi
Extra Bed: Rp. 50.000/Bed

Makan dan minum di urus sendiri

3. Bersedia di relokasi sesuai pengaturan tempat
(kamar) oleh Panitia Pelaksana pada tanggal 3 Juli
2006. Akomodasi dan Makan mulai di tanggung Panitia
Pelaksana sejak tanggal 3 Juli 2006.

4. Untuk jelasnya silahkan menghubungi langsung
PADEPOKAN PENCAK SILAT INDONESIA JL. Taman Mini
Jakarta Timur 13560 – Telp. (021) 841.6011; Fax. (021)
841.3815.

5. Untuk pendataan yang akurat Panitia Pelaksana harap
diberi tahu siapa saja dari peserta Sidang yang
langsung menginap di PADEPOKAN sebelum tanggal 3 Juli
2006.

Demikianlah informasi yang dapat kami berikan. Terima
kasih.

Jakarta 5 Juni 2006

Salam doa
Bid. Umum, Transportasi, Kesehatan dan Keamanan
Panitia Pelaksana SSA 22 GT.

Saturday, June 03, 2006

Sesuai tugasnya, TP3 Gereja Toraja menyiapkan dua materi:

1. Rancangan Keputusan (Rantus) berdasarkan semua usul dari SSW I, II, III, IV, BPS Gereja Toraja, MPGT, dan BVGT.

2. Rancangan Garis-garis Besar Program Pengembangan Gereja Toraja 2006-2011.

Asalkan tidak mengubah isinya, silakan di-lay out, diformat, disampul sesuai yang dipandang baik oleh teman2 di sekretariat. Saya masih menyiapkan Kata Pengantar untuk materi TP3. Saya akan mengirimnya segera secara terpisah. Kedua materi itu akan dibahas di dalam 7 sidang komisi/panitia (Sebenarnya hanya 5 Komisi [tetapi 1 komisi terbagi dua subkomisi, sehingga menjadi enam] dan satu panitia).
Pembagian Komisi dan tugasnya adalah:

I. KOMISI LAPORAN/REKOMENDASI/PESAN: Membahas Laporan BPS, BV, MP Gereja Toraja, materi Panitia Pengarah, dan menyusun Rekomendasi/pesan SSA XXII.

II. KOMISI PERATURAN-PERATURAN GEREJA TORAJA: Membahas semua usul yang bersangkut paut dengan aturan-aturan dalam Gereja Toraja.

III. KOMISI PROGRAM PWG & PI: Membahas semua usul yang bersangkut paut dengan PWG dan PI.

IV. KOMISI PROGRAM TEOLOGI, KETENAGAAN, DAN KEGEREJAAN: Membahas semua usul yang bersangkut paut dengan masalah teologi, ketenagaan, dan kegerejaan.

V. KOMISI PARTISIPASI DALAM PEMBANGUNAN, SARANA PRASARANA, PENATALAYANAN, DAN DANA: Membahas semua usul yang bersangkut paut dengan masalah Pendidikan, Kesehatan, & Pemberdayaan Masyarakat, Penatalayanan, Sarana Prasarana, dan Dana, dalam dua subkomisi:

A. Subkomisi Program Pendidikan, Kesehatan, & Pemberdayaan Masyarakat

B. Subkomisi Program Penatalayanan, Sarana Prasarana, dan Dana

VI. PANITIA NOMINASI (Menyusun kriteria, sistem, dan teknis pemilihan pengurus BPS Gereja Toraja periode 2006-2011).
Mungkin akan lebih murah biaya cetaknya jika materi dari TP3 Gereja Toraja disatubukukan saja dengan materi dari Panitia Pengarah. Tetapi nanti teman2-lah yang mempertimbangkannya. Mudah2an materi Panitia Pengarah sudah masuk juga.
Semoga segala persiapan dan penyiapan diri kita untuk SSA XXII terus diberkati Tuhan. Amin.
Salama',
I.Y. Panggalo

Wednesday, May 31, 2006

Yacobus Camarlow Mayongpadang
Umat Tuhan Dan Pembaharuan Masyarakat


Bahan bacaan Kitab Yehezkiel 36 : 22 - 32
Nats Kitab Yehezkiel 36 : 26 – 27

Pembacaan dari Kitab Yeheskiel tersebut dan terutama
kalau kita membaca pasal-pasal sebelumnya, menunjukkan
kemarahan Tuhan pada bangsa Israel. Tuhan marah karena
bangsa Israel tidak taat pada kehendakNya, bahkan
justru merusak kemuliaan Tuhan ( ayat 22b ). Umat-Nya
tidak mengikuti perintah-perintahNya sehingga
kelakuan, tindakan, sikap, pola hidup bangsa Israel
tidak berubah. Malah lebih memperhatikan atau lebih
hormat kepada berhala-berhala. Akibatnya orang lain
atau masyarakat umum tidak bisa membedakan mana umat
Tuhan mana masyarakat biasa. Kehidupan sehari-hari
sama saja. Padahal Tuhan berharap umat-Nya hidup
sesuai dengan kehendak, keinginan, perintah Tuhan
sehinga umat-Nya berbeda dengan kelompok masyarakat
lain. Agar ada ciri, karakter, prilaku mereka yang
berbeda dari masyarakat umum, sehingga nama Tuhan
dimuliakan.
Tuhan menginginkan perilaku manusia sesuai dengan
kehendak-Nya. Ia menginginkan sikap manusia mengikuti
kehendakNya. Tetapi untuk itu Tuhan tidak hanya
sepenuhnya menggunakan otoritas keilahian-Nya untuk
menyulap seseorang atau satu komunitas atau bangsa
berubah drastis sama dengan kehendak-Nya. Padahal Ia
memiliki kekuasaan untuk apa saja, termasuk mampu
mengubah sikap dan prilaku. Tetapi Tuhan tidak mau
dengan cara instan. Ia bekerja secara terencana dan
melalui proses dan sarana. Satu di antaranya ialah
memilih satu kaum, memperlengkapi kaum itu agar
berkehidupan sesuai dengan kehendak Allah. Itulah yang
dilakukan Tuhan memanggil Abraham keluar dari kaumnya,
(Kejadian 12:1). Itu juga yang dilakukan Tuhan kepada
bangsa Israel saat terbelenggu di Mesir melalui Musa
(Keluaran 3:10). Dan dalam konteks kekinian dan
lingkup keberadaan kita, warga Gereja Toraja, kita
mengatakan dan mengakui bahwa Tuhan juga mengutus
seorang pemuda bernama Anthony van de Lostreck pergi
ke Toraja, daerah yang sangat jauh dari Belanda,
terpencil dan terbelakang dan dengan informasi yang
sangat minim. Tetapi itulah cara Tuhan mempersiapkan
suatu kelompok/kaum.. Dan untuk itu Anton panggilan
anak muda itu tidak berpikir panjang, tidak mengomel
tetapi dengan ikhlas menyatakan kesiapan untuk
berangkat ke negeri yang begitu jauh. Itulah
rencana-rencana Tuhan untuk memilih umat-Nya.
Tujuan-Nya tak lain agar namaNYA DIMULIAKAN. Karena
itu Ia mau melalui prilaku kaum yang dipilihnya itulah
yang akan menjadi sarana sosialisasi tentang
kehendak-Nya kepada kaum yang lain. Ia mau membuat
proyek percontohan. Tuhan menginginkan agar umat
pilihan-Nya menjadi bill board, papan reklame atau
surat yang dapat dilihat dan dibaca orang lain, kaum
lain, suku lain tentang bagaimana kehendak Allah itu.
( II Kor. 3 : 3 ) .
Jadi Tuhan tidak asal memanggil Abraham. Ia tidak
sekedar mengutus Musa, dan bukan tanpa alasan sehingga
Anthony diutus datang ke Toraja. Tapi Tuhan
berkeinginan agar di dalam komunitas yang dipilihnya
itu, terpelihara cara hidup, prilaku yang sesuai
dengan keinginan Tuhan sehingga terwujud kehendak
Allah. dan melalui itu kehidupan masyarakat ( politik,
ekonomi, budaya, pemerintahan ) mengalami PEMBAHARUAN
dan nama Tuhan DIKUDUSKAN.

Apa yang terjadi ?

Dari rangkaian nats dari ayat 22 – 36 kita dapat
mencatat beberapa hal :
1. Tuhan kecewa dan marah karena akibat ulah bangsa
Israel yang tidak mencerminkan kehendak-Nya, tidak
memberi keteladanan, nama Tuhan menjadi rusak ( baca
dinajiskan ). Harapan-Nya tidak terpenuhi. Umat
pilihan-Nya membangkang. Prilaku kaum pilihan-Nya
terkontaminasi. Proyek percontohan-Nya gagal. Dalam
keseharian tidak ada perbedaan yang jelas antara
prilaku, pola hidup komunitas yang dipilih Tuhan
dengan komunitas lainnya. Semua biasa dan sama saja.
2. Melalui ulah bangsa Israel, citra kemahakudusan
Tuhan menjadi sirna, rusak, karena umat Israel sudah
dikenal sebagai umat Tuhan. (Untuk diskusi selanjutnya
perlu dipahami bahwa umat Kristen, Gereja Toraja,
adalah umat pilihan dan menyandang tugas yang sama
dengan umat Israel yakni mewujudkan kehendak Tuhan
melalui prilaku agar nama Tuhan dimuliakan).
3. Allah kemudian bertindak melakukan penyelamatan
(ayat 24 ) untuk menjaga KEKUDUSAN Tuhan melalui
perubahan dan perubahan itu berawal dari perangkat
yang mendasar dalam diri manusia yakni hati dan roh
(ayat 26 ). Jadi perubahan itu harus dari dalam hati.
Tetapi hal itu dilakukan Tuhan tidak dengan gratis
tetapi diikuti dengan syarat-syarat ; harus
......berpegang pada peraturan – peraturan-Ku dan
melakukannya. (ayat 27 )
4. Tetapi apabila ada ketaatan, Tuhan menjanjikan
berkat. (ayat 30 ).
Apakah sesungguhnya yang diharapkan Tuhan. “JANGANLAH
KAMU MENJADI SERUPA DENGAN DUNIA INI, TETAPI
BERUBAHLAH OLEH PEMBAHARUAN BUDIMU…………( Roma 12 2.)
Kamu, kita, warga Kristen, warga Gereja Toraja, tidak
boleh sama dengan yang lain dalam soal cara berpikir,
cara bertindak dan pola hidup.
Pertanyaan, apakah kehendak Tuhan itu sudah terpenuhi
dalam kehidupan umat Kristen di Indonesia. Dalam
Kehidupan kita yang mengklaim diri Anak-anak Tuhan?
Dalam kehidupan warga Gereja Toraja di tengah tengah
bangsa yang sedang mengalami krisis multi dimensi ini
? Apakah gereja-gereja di Indonesia termasuk Gereja
Toraja sudah melakukan pembaharuan. Ada baiknya kita
mengingat kembali khotbah Pdt. Dr. Theo Kobong pada
perayaan Yubelium Gereja Toraja di Rantepao 1997
mengatakan ; ”Gereja seharusnya mewarnai kehidupan
masyarakat (politik, pemerintahan, negara ) tetapi
yang terjadi ialah justru Gerejalah yang diwarnai
(dipengaruhi ).

Pertanyaan untuk didiskusikan

1. Sudahkah umat Kristen khususnya warga Gereja Toraja
berperan, berprilaku sesuai kehendak Allah dalam
kehidupan keseharian sehingga mampu melakukan
pembaharuan?
2. Kalau sudah berikan contoh-contohnya.
3. Kalau tidak, juga, berikan contohnya.
4. Lanjutan dari no. 2 ( kalau itu yang dipilih ) apa
yang harus dilakukan selanjutnya untuk lebih
mengkonkritkan, meningkatkan peran warga Gereja
Toraja ?

5. Lanjutan dari no 3. (kalau itu yang dipilih ) apa
saja yang menurut saudara menjadi faktor-faktor
penyebab sehingga warga Gereja Toraja tidak mampu
mewujudkan peran yang diamanatkan Tuhan.
6. Dalam hal yang lebih konkrit lagi tentang kehidupan
bermasyarakat, berpemerintahan misalnya, adakah
perbedaan pelaksanaan pilkada, pemilihan legislatif,
pengelolaan pemerintahan di Tana Toraja sebagai basis
Gereja Toraja dibanding dengan daerah-daerah lainnya.
7. Kalau ya berikan contoh, kalau tidak mengapa ?.



Selamat berdiskusi.

Bahan PA SSA XXII

MENJADI BATU HIDUP

I Petrus 2: 1-9


I. Pengantar : antara Harapan dan Realita atau Paham
dan Praktek

1. Dalam proses pemilihan Penatua dan Syamas, salah
satu faktor yang menjadi alasan kuat untuk
mencalonkan seseorang ialah agar yang bersangkutan
dapat berperan aktif dalam jemaat. Ini tentu tidak
salah. Dan karena pertimbangan ini, maka faktor
kuantitas dalam kemajelisan di jemaat-jemaat, umumnya
cukup menonjol. Bahkan ratio antara anggota majelis
gereja dengan anggota jemaat mendekati posisi
seimbang. Di beberapa jemaat telah diterapkan
pembatasan masa tugas seorang Penatua atau Syamas
yakni maksimum dua periode berturut-turut. Alasannya
antara lain agar makin banyak anggota jemaat yang
mendapat kesempatan untuk melayani. Gambaran fenomena
ini cukup memberi kesan bahwa seorang anggota jemaat
kurang berpeluang untuk berperan aktif dalam jemaat
kalau ia tidak menjadi anggota majelis gereja.
Pertanyaan bagi kita ialah apakah memang seseorang
dalam kapasitasnya sebagai anggota jemaat tidak dapat
berperan aktif dan turut menentukan kehidupan jemaat,
kecuali menjadi anggota mejelis gereja?

2. Dalam struktur jemaat tergambar pembagian tugas,
fungsi dan wewenangan para pelaku dalam membangun
jemaat serta menampakkan hubungan kordinasi dan
integrasi yang mencerminkan kesatuan jemaat. Secara
faktual, hampir semua jemaat memiliki struktur yang
hanya ‘berbicara’ tentang majelis gereja. Meskipun
dalam struktur jemaat-jemaat umumnya ada komisi OIG,
tetapi yang duduk dalam komisi itu bukanlah yang
berkapasitas sebagai pengurus OIG melainkan para
Penatua dan Syamas yang membidangi (membawahi?) OIG.
Pertanyaan bagi kita ialah di mana tempat para anggota
jemaat (non majelis gereja) dalam struktur itu?
Bukankah yang terpanggil membangun persekutuan jemaat
adalah semua orang beriman yang bersekutu entah
sebagai anggota mejalis gereja atau sebagai anggota
jemaat.

3. Ruang partisipasi anggota gereja dalam rangka turut
menentukan kebijakan mengenai hidup dan pelayanan
jemaat telah tersedia secara terbatas. Dari yang
terbatas itu ada sidang Majelis Gereja yang diperluas,
diadakan sekali dalam satu tahun (TGT Psl 34: 7).
Selain tidak lagi memadai, rapat tersebut amat kurang
efektif. Sebagian jemaat yang masih berupaya
melaksanakannya tidak lebih dari suatu pemenuhan
legalisme atau suatu formalisme. Sebagian jemaat
hampir tidak pernah lagi melaksanakannya. Demikian
pula, dalam sidang Majelis Gereja yang diadakan satu
kali dalam sebulan (TGT Psl 34: 3) wakil dari
masing-masing bidang pelayanan ketegorial (pengurus
OIG) diundang sebagai konsultan. Dalam kenyataannya,
kehadiran mereka lebih bersifat mendengar dari pada
ikut berbicara dan menentukan. Masalahnya antara lain
karena rapat tersebut sangat didominir oleh para
anggota majelis gereja dalam membicarakan program
dan berbagai urusan organisasional ‘milik’ majelis
gereja.

4. Bila kita mencermati fenomena umat Kristiani masa
kini, salah satu hal yang cukup mencolok ialah
tampilnya kaum awam dalam berbagai bidang pelayan.
Mereka menjadi motor penggerak atau sebagai aktifis
persekutuan-persekutuan pelayanan di kampus,
lingkungan kerja dan sebagainya. Mereka sepertinya
lebih ‘berdaya’ melayani di luar ketimbang dalam
kapasitas sebagai anggota ‘biasa’ dalam gereja.
Demikian pula, di mana-mana muncul kelompok
persekutuan yang digerakkan oleh kaum awam yang
‘telah keluar’ dari gereja. Latar belakang munculnya
kelompok-kelompok itu - satu di antaranya - ialah
sebagai reaksi kritis terhadap kehidupan dan
aktifitas pelayanan gereja yang mereka anggap tidak
lagi mampu menjawab kebutuhan umat di tengah gempuran
gelombang perubahan saman yang begitu cepat. Di balik
seluruh aktifitas mereka, terkandung suatu keinginan
dan yang kuat untuk melakukan pembaharuan gereja,
meski dengan ‘versi’ mereka sendiri.

5. Salah satu ide pokok dalam Reformasi ialah konsep
imamat am orang percaya, yang secara fundamental
menolak pembedaan antara orang awam dan rohaniwan
(klerus). Dalam konsep tersebut status dan fungsi kaum
awam diakui sebagai subjek gereja atau pelaku dalam
panggilan dan tanggung jawab membangun gereja atau
jemaat. Namun dalam praktek yang terjadi ialah
kedudukan kaum awam segera mengalami kemunduran.
Sementara itu kedudukan kaum klerus kembali
ditegakkan menjadi jabatan dan badan yang mewakili
gereja. Mereka menjadi subjek yang dominan, sedang
anggota gereja hanya sebagai objek. Akibatnya ialah
ruang gerak dan kreatifitas kaum awam dalam gereja
menjadi sempit dan terabaikan. Kesenjangan antara
konsep dan praktek ini, menurut Hendrik Kraemer,
adalah suatu kekeliruan besar gereja karena dengan itu
ia telah mengabaikan asetnya yang paling utama yaitu
kaum awam yang nota bene adalah warga gereja.

6. Terkait dengan pokok-pokok persoalan di atas, paham
teologi kita tentang gereja (eklesiologi) yang
mendasari konsep dan penataan hidup dan pelayan
gereja, sangat didominasi oleh teologi jabatan. Sedang
teologi kaum awam khususnya tentang kedudukan, peran
dan tanggungjawab mereka belum dikembangkan secara
konsepsional dan implementatif dalam tata gereja.
Gambaran ini berlaku dalam gereja-gereja di Indonesia
pada umumnya. Termasuk Gereja Toraja?

Gambaran masalah tersebut di atas memperlihatkan
adanya kesenjangan antara kenyataan (praktek) dan
harapan (paham) tentang keberadaan dan fungsi
batu-batu hidup yaitu semua orang percaya yang
bersekutu dalam ‘wadah’ jemaat. Mendekatkan jarak
antara kenyataan dan harapan tersebut adalah suatu
proses pembaruan selaku bagian dari upaya
revitaltasasi jemaat. Dalam upaya tersebut, kita
perlu mengembangkan visi baru tentang wujud dan
panggilan gereja, dan tempat yang khas bagi para
pejabat gereja dan anggota gereja sebagai batu-batu
hidup.

II. Pemahaman Teks

Surat I Petrus 2 khususnya ayat 4-10 memaparkan
identitas kolektif dari persekutuan orang-orang
beriman yang berada dalam dunia ini sebagaimana yang
tersebar di Asia Kecil, yang menjadi alamat dari surat
ini. Penegasan akan identitas kolektif mereka sangat
dipengaruhi oleh perkembangan jemaat saat itu yakni
dengan kehadiran orang-orang Kristen yang berasal
dari latar belakang non Yahudi. Gambaran yang dipakai
untuk mengungkapkan identitas kolektif mereka ialah
sebagai ‘rumah rohani’, sebuah ‘bangunan’.
Dalam identitas kolektif orang percaya yang bersekutu
itu, pertama-tama Kristus disebut sebagai ‘batu yang
hidup’ (2: 4). Sebagai batu yang hidup, Kristus adalah
pusat dari peristiwa keselamatan melalui salib dan
kebangkitan-Nya (1:3). Ia adalah Juruselamat yang
memanggil manusia untuk percaya dan menerima
keselamatan dari pada-Nya (ay. 4). Selanjutnya, setiap
orang yang telah datang kepada Kristus, yang “telah
mengecap kebaikan Tuhan” (2: 3), menerima suatu tugas:
“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu
hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (2: 5).
Dengan demikian gereja sebagai persekutuan iman adalah
rumah rohani yang dibangun oleh Allah dan untuk itu
Ia memanggil orang-orang percaya sebagai batu-batu
dari bangunan itu. Pelaku Utama yang membangun
persekutuan itu adalah Allah di dalam Kristus melalui
Roh Kudus. Dalam tangan-Nya, orang-orang beriman
menerima keberadaan mereka sebagai anugerah, dan tugas
panggilan untuk membangun rumah rohani atau jemaat.

Identitas kolektif dari persekutuan orang beriman
lebih dipertegas dalam kedudukan mereka sebagai
imamat yang kudus (2:5). Dalam gambaran ini,
identitas semua orang percaya juga meliputi dua sisi
yakni keberadaannya (sifat dasarnya) dan apa yang
dilakukannya (fungsinya atau tanggung jawabnya). Sisi
yang pertama, yakni keberadaan, diterima sebagai
anugerah dari keimamatan Kristus. Oleh pengorbanan
Kristus, setiap orang percaya menerima pengampunan
dan keselamatan, menjadi bangsa yang terpilih, bangsa
yang kudus, imamat yang rajani, dan umat kepunyaan
Allah sendiri (2: 9). Sedang sisi fungsionalnya ialah
bahwa semua orang percaya menerima tugas dan tanggung
jawab untuk mempersembahkan persembahan rohani dan
untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari
Dia (2:5,9). Ibarat dua sisi dari satu mata uang,
sumber keberadaan semua orang percaya sebagai anugerah
dan alasan keberadaannya sebagai panggilan merupakan
satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dari sini kita
dapat mengambil suatu kesimpulan tentang kriteri dasar
bagi seseorang untuk menjadi batu hidup yakni a)
suatu anugerah oleh imannya kepada Yesus Kristus, b)
ia menjadi bagian yang berada dalam persekutuan dengan
Kristus dan persekutuan dengan sesama orang beriman,
dan c) bersamaan dengan itu ia berfungsi turut
membangun persekekutuan jemaat. Karena itu sebagai
batu hidup bukanlah status yang otomatis dimiliki
setiap orang percaya melainkan suatu anugerah dan
panggilan yang harus dijalankan, suatu proses menjadi
melalui aktualisasi hidup beriman dalam jemaat dan
melalui jemaat kepada dunia ini.
Fungsi batu-batu hidup itu dalam membangun persekutuan
haruslah didasarkan atas apa kehendak Kristus atas
gereja atau jemaat-Nya. Sebagaimana disebutkan di
atas, bahwa tujuan pembangunan rumah rohani itu adalah
untuk “mempersembahkan persembahan rohani” , dan untuk
“memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia”
(2:5,9). Di sini perlu dipertegas bahwa pembangunan
jemaat tidak hanya bersifat ke dalam (intensif atau
sentripetal), melainkan juga bersifat keluar
(ekstensif atau sentrifugal). Seluruh aktifitas dari
‘batu-batu hidup’ dalam jemaat merupakan penjabaran
dan implementasi dari tujuan pembangunan jemaat
sebagai rumah rohani itu.
Dalam melaksanakan panggilan sebagai batu-batu hidup,
baik secara individu maupun dalam bentuk kelompok
(Majelis gereja, BPM, Komisi-komisi,
keolompok-kelompok pelayanan katigorial atau OIG),
haruslah dilakukan dalam bingkai kesatuan jemaat.
Struktur jemaat (struktur Majelis Gereja?) yang
didesain haruslah pula mencerminkan aspek kesatuan
semua tugas dan fungsi dalam jemaat, termasuk para
anggota yang melayani dalam bidang-bidang pelayan
kategorial. Dalam Efesus 2: 22, kesatuan batu-batu
hidup dalam membangun rumah rohani disebut dengan
ungkapan rapih tersusun.
Dalam bangunan rohani itu, yang dengannya semua orang
beriman menjadi batu-batu hidup, Allah menetapkan
orang-orang untuk menjalankan panggilan khusus yang
kita kenal dengan sebutan pejabat gereja: Pendeta,
Penatua dan Syamas. Di samping para pejabat gereja,
ada anggota-anggota gereja. Masing-masing ‘ketegori’
batu hidup itu – pejabat gereja dan anggota gereja -
memiliki tempat khas dalam membangun rumah rohani atau
membangun jemaat.

1. Anggota gereja/jemaat sebagai subjek.

Dalam uraian di atas telah dijelaskan bahwa dalam
keberadaan dan panggilannya sebagai batu-batu hidup,
semua orang percaya adalah subjek atau pelaku dalam
membangun rumah rohani atau jemaat. Untuk menunaikan
panggilan sebagai subjek itulah, Allah menyediakan
tugas-tugas pelayanan di dalam dan melalui jemaat. Dan
untuk melaksanakan tugas-tugas itu Allah memberikan
kepada setiap anggota gereja karunia Roh atau karisma.
Dengan kata lain, untuk menjadi subjek membangun
jemaat, Allah memanggil, menentukan pelayanan dan
memberi karisma kepada setiap orang percaya (I Kor.
12; Roma 12: 4-8).
Sebagai subjek dalam membangun jemaat, para anggota
jemaat tidak hanya sebagai pelaksana kegiatan-kegiatan
melainkan juga turut menentukan kehidupan dan
pelayanan jemaat melalui berbagai proses pengambilan
keputusan dalam jemaat. Mereka sama sekali bukan
sebagai pembantu dari pejabat gereja atau bukan
semata sebagai pelaksana keputusan-keputusan majelis
gereja. Dalam keimamatan semua orang percaya tidak
dikenal hubungan yang berbentuk tingkatan atau
hirarki. Kedua hal ini – pelaksanaan kegiatan dan
pengambilan keputusan - yang di dalamnya anggota
jemaat berpartisipasi, berlangsung dalam bingkai
kesatuan jemaat sehingga batu-batu itu rapih tersusun
membentuk suatu bangunan rohani.

2. Pejabat gereja sebagai pemimpin jemaat.

Para pemangku jabatan gereja dipilih dan dipanggil
dari antara batu-batu hidup itu. Kedudukan mereka di
antara batu-batu hidup lainnya dalam jemaat adalah
yang pertama di antara yang setara (primus inter
pares). Agar anggota gereja dapat menjalankan fungsi
mereka itu dengan baik dan berhasil guna, maka dalam
persekutuan itu diperlukan fungsi jabatan (band. Ef.
4:11, 12). Dengan kata lain, dalam rangka pembangunan
jemaat, para pejabat gereja berfungsi sebagai
pemimpin jemaat.

Dalam gereja mula-mula fungsi kepemimpinan dalam
jemaat telah melekat pada jabatan-jabatan penatua
(presbyteroi) atau penilik jemaat (episkopos) untuk
menggembalakan jemaat (Kis.14:23; 16:4; 20:28).
Gambaran yang sama diperoleh dari fungsi gembala (I
Petrus 5:1-14), untuk “mengurus jemaat Allah” (I
Tim.3:5), atau sebagai “pengatur rumah Allah”
(Tit.1:7).

Berdasarkan sumber Alkitabiah tersebut di atas kita
dapat menyimpulkan bahwa tugas kepemimpinan jabatan
dalam jemaat meliputi dan merangkum semua tugas atau
fungsi khusus jabatan gereja yakni menggembalakan,
mengajar dan memimpin liturgi (imamat). Dalam kerangka
pembangunan jemaat, tugas pejabat gereja sebagai
pemimpin jemaat dapat kita jabarkan sebagai berikut:
1). Melaksanakan pelayanan firman dan sakramen. Dalam
hal ini Allah mengangkat para pengemban jabatan untuk
melaksanakan fungsi kepemimpinan melalui aktifitas
pelayanan ibadah, penyampaian khotbah, pengaturan
baptisan dan merayakan perjamuan kudus. 2).
Menyelenggarakan dan mengatur pelayanan untuk semua,
dan oleh semua anggota dalam persekutuan iman. Dengan
demikian semua pelayanan dalam jemaat, ke dalam dan ke
luar, menjadi suatu pelayanan bersama. 3). Menciptakan
dan memelihara iklim positif dalam jemaat, yakni
suasana yang tercermin dalam komunikasi yang hidup,
terbuka, harmonis, dan pergaulan yang tulus antar
sesama anggota persekutuan. Iklim yang demikian akan
membuat anggota jemaat berpartisipasi dengan lebih
senang dan lebih intens, serta membuat partisipasi
mereka lebih berdaya guna. 4). Merumuskan dan
mengkomunikasikan tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang
menarik, inspiratif dan menggetarkan hati anggota
gereja untuk berpartisipasi. 5). Mendorong dan
membimbing jemaat dalam mengembangkan visi jemaat
serta membantu jemaat untuk mewujudkannya dalam
seluruh hidup dan pelayanan jemaat. 6). Memelihara
atau menjaga identitas jemaat. Ini adalah juga tugas
semua anggota jemaat, tetapi bagi pejabat gereja,
tugas tersebut merupakan tugas pokoknya. 7)
Mengembangkan stuktur jemaat yang mengakomodir secara
integratif “rapih tersusun’ semua fungsi dan tugas
dalam jemaat yang mencerminkan kedudukan dan fungsi
majelis gereja sebagai pemimpin jemaat, serta
kedudukan dan fungsi anggota jemaat sebagai subjek
atau pelaku dalam membangun jemaat.
Tugas-tugas gereja sebagaimana dikemukakan di atas,
mensyaratkan sifat, gaya dan sarana yang
masing-masing mengandung arti khusus. Sifat
kepemimpinan adalah pelayanan. Penegasan akan hal ini
sangatlah penting agar para anggota majelis gereja
tidak berorientasi pada kedudukan dan kekuasaan.
Sebagai pelayan, mereka berfungsi menolong dan
mendukung anggota jemaat dalam mengemban tugas
pelayanan sesuai karisma mereka, atau untuk
memperlangkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan
pelayanan, bagi pembangnan tubuh Kristus (Ef.5:12).
Terkait dengan sifat tersebut, kepemimpinan pejabat
gereja dijalankan dengan gaya kooperatif atau
pertisipatif, bukan otoriter. Sedang sarana yang
digunakan ialah ruang bersama (sidang-sidang atau
rapat-rapat jemaat, termasuk pertemuan-pertemuan non
formal) yang berorientasi pada konsensus. Ruang yang
dimaksud perlu diciptakan dan digunakan secara
kreatif bagi keterlibatan anggota gereja dalam
proses pengambilan keputusan.


III. Pertanyaan untuk diskusi

1. Salah satu bagian penting dari upaya kita
melakukan pembaruan gereja ialah melakukan proses
perubahan tentang status dan fungsi pejabat gereja
dari subjek dominan menjadi pemimpin jemaat. Dalam hal
apa sajakah nampak atau berlaku apa yang dimaksud
subjek yang dominan pada pihak pejabat gereja itu?
Kemukakanlah saran-saran atau pandapat saudara yang
dapat mendukung proses perubahan tersebut.

2. Dalam penataan kehidupan dan pelayanan Gereja
Toraja, ruang partisipasi anggota jemaat – minus kaum
bapak non anggota majelis gereja - dalam
kegiatan-kegiatan dan pengambilan keputusan ‘sebagian’
telah diwadahi dalam bidang-bidang pelayanan
kategorial yang disebut organisasi intra gerejawi.
Menurut saudara, sejauh manakah keberadaan dan fungsi
bidang pelayanan kategorial itu telah memainkan
perannya dalam rangka pemberdayaan anggota jemaat
agar mereka benar-benar berfungsi sebagai batu-batu
hidup? Apa sajakah hambatan atau kendala yang ada?
Kemukanlah pula saran atau pandangan saudara bagi
pemberdayaan fungsi dan peran bidang-bidang pelayanan
kategorial tersebut dalam jemaat maupun dalam
lingkup-lingkup yang lebih luas.


Pdt. L.Taruk

Sunday, May 21, 2006

Dalam sosialisasi, telah ditetapkan 13 orang yang akan menjadi Pimpinan
Sidang SSAXXII, antara lain:

1.Pdt. P. Manganan, STh
2.Pdt. S. Layuk Allo STh
3.Pnt. Barnabas Kalalembang, SH
4.Pnt. Drs. Kala'tiku Paembonan, MSi
5.Pdt. Yahya Boong, STh
6.Pdt. Esra Sampe, STh
7.Pdt. D.H.B. Sampetoding, STh
8.Pdt. Elvis Leme Saladan, STh
9.Pdt. Menathan Tulak, STh
10.Pdt. Petrus Senga', STh
11.Pdt. Musa Sikombong, STh
12.Sym. Drs. Rede Roni Bare, M.Pd.
13.Pdt. Agustinus Lukas, S.Th, M.Min.

Dari ke-13 orang tersebut, 5 diantaranya akan menjadi pimpinan sidang, dan 8 orang akan
menjadi pimpinan komisi/panitia. Ke-13 orang tersebut akan mengadakan pertemuan di
Jakarta pada tanggal 30 Juni untuk menetapkan siapa diantara mereka yang akan menjadi
pimpinan sidang dan siapa sebagai pimpinan komisi/panitia.

Terima kasih

Musa Salusu