PERSIDANGAN GEREJA YANG KHIDMAT DAN SANTUN - by Rev. Samperitti
Persidangan Sinode Am XXII Gereja Toraja tinggal beberapa bulan. Kesibukan Panitia semakin terasa. Kita semua berharap bahwa akan ada hal-hal baru yang dihasilkan persidangan ini, bukan saja produk-produk persidangan ini, tetapi juga pelaksanaan persidangan SSA XXII itu sendiri. Mudah-mudahan “ pembaharuan budi “ yang diangkat sebagai tema persidangan ini, dimulai dari persidangan ini sendiri. Kita berharap tidak ada: kata-kata yang tidak pantas, saling mendakwa, sikap kebencian, ngotot bicara dalam persidangan yang kudus ini.
Pada bulan Nopember tahun 2005 yang lalu saya mengikuti persidangan Sinode Uniting Church untuk Australia Selatan di Adelaide. Saya sangat terkesan dengan cara mereka bersidang. Persidangan ini berjalan khidmat dan santun. Beberapa hal yang mengesankan dari persidangan Sinode Uniting Church itu antara lain:
1. Persiapan yang matang
Persiapan mereka yang matang terutama acara dan materi persidangan, melahirkan pelaksanaan yang lancar dan sukses. Seluruh jadwal acara dipatuhi, bahkan persidangan ditutup beberapa jam lebih awal dari jadwal. Persidangan Sinode ini berlangsung lima hari (tgl 3-7 Nop 2005) dan diikuti oleh lebih dari 500 orang peserta. Mereka tidak ditampung di satu tempat, tetapi dapat mematuhi jadwal acara. Seluruh materi tersusun rapi dalam satu paket, menurut bidang masing-masing dengan warna yang berbeda. Setiap peserta menerima materi dengan satu tas yang sederhana sekali.
2. Ruangan Sidang
Persidangan dilaksanakan dalam satu ruangan yang cukup besar, sehingga dapat dibagi dalam beberapa bagian :
2.1 Ruangan sidang
Ditata seperti restoran dengan memakai meja-meja bundar. Tiap meja dapat menampung 8-10 orang. Yang menarik ialah tidak ada pengaturan berdasarkan kelompok seperti Presbytery (Klasis) atau Congregation (Jemaat). Tiap orang bisa duduk di meja mana saja, sehingga tidak ada suara untuk kepentingan klasis ini, klasis itu atau jemaat ini, jemaat itu. Semua peserta persidangan berbicara untuk kepentingan Sinode (Australia Selatan) dan Uniting Church secara umum.
2.2 Ruangan pameran
Dilewati sebelum masuk ruangan persidangan. Setiap seksi atau komisi dari sinode seperti: International Mission, Multicultural, Educational, Ministry, dll, membuka stand pameran. Yang dipamerkan ialah program yang sudah dilaksanakan dan produk-produk dari tiap seksi itu. Di ruangan pameran ini, ada juga penyebaran informasi berupa brosur-brosur. Selain itu ada juga penjualan beberapa hal terutama buku-buku. Siapa tahu Panitia SSA XXII bersama BPS Gereja Toraja mau mengadakan pameran kegiatan Gereja Toraja lima tahun terakhir pada SSA XXII nanti. Pameran ini dapat diikuti oleh unit-unit kerja BPS seperti: YPKT, YKGT, OIG, Percetakan Sulo, Yayasan Tallu Lolona, dll. Dengan begitu seluruh peserta persidangan dan tamu-tamu dapat mengetahui program dan perkembangan dari tiap unit BPS Gereja Toraja. Siapa tahu ada peserta atau tamu yang mau mendanai salah satu program.
2.3 Ruangan doa
Persidangan Sinode ini didukung oleh satu team doa yang selalu datang lebih awal dari peserta lainnya. Ada satu ruangan khusus yang dapat menampung sekitar 50 orang disediakan untuk team doa itu. Tugas mereka ialah mendoakan pelaksanaan sidang setiap hari. Sebelum acara pembukaan sidang pada hari pertama dan sebelum sidang dimulai tiap pagi, team doa ini sudah berkumpul untuk berdoa. Doa dilakukan secara berantai, dibuka oleh kordinator team doa kemudian disambung oleh siapa saja yang hadir. Walaupun ada team doa khusus, Kebaktian/PA di ruang sidang masih tetap dilakukan dengan waktu yang tepat menurut jadwal.
3. Penggunaan multimedia
Persidangan Sinode ini benar-benar persidangan “multimedia”. Pimpinan sidang berada di pertengahan salah satu sisi yang memanjang (bukan di depan sisi lebar seperti lasimnya persidangan kita). Di samping kiri-kanan bagian atas dari pimpinan sidang, ada dua layar putih yang cukup besar. Begitupun pada tembok di hadapan pimpinan sidang ada dua layar yang sama. Jadi ada empat layar monitor dalam ruangan, sehingga memungkinkan semua peserta sidang “melihat” pimpinan sidang. Dua orang mengoperasikan masing-masing satu Laptop guna penyiaran. Setiap usul yang dibahas dapat dibaca dengan jelas pada empat layar yang ada, termasuk usul perobahan suatu kata atau kalimat.
4. Lampu lalulintas
Saya heran melihat ada lampu lalulintas di sebelah kiri atas pimpinan sidang. Ternyata lampu itu dipakai untuk mengatur peserta sidang yang hendak berbicara. Tiap orang yang mau bicara diberi waktu maksimal tiga menit. Seseorang baru bisa bicara kalau lampu hijau sudah menyala. Jika pembicara masih bicara pada menit kedua maka lampu kuning menyala sebagai peringatan. Pembicara harus berhenti jika lampu merah sudah menyala, sebagai tanda bahwa waktu tiga menit sudah habis. Mengesankan sekali karena tidak ada yang ngotot bicara kalau lampu merah sudah menyala. Pembicara berhenti sendiri tanpa disuruh oleh moderator.
5. Pengambilan keputusan dengan sistem kartu
Setiap peserta sidang menerima 2 lembar kartu berwarna, berukuran kira-kira 10 x l4 cm, yang satu berwarna biru dan yang lainnya berwarna oranye. Untuk mengambil keputusan atas satu usul atau masalah, pimpinan sidang kadang hanya menyatakan : “We want to know our consensus of this proposal,” kemudian hampir seluruh peserta sidang mengangkat kartu oranye tanda setuju. Tidak ada suara, apalagi semacam teriakan “setujuuuu!”. Hanya sekali-sekali ada yang mengangkat kartu biru pertanda masih mau bicara. Setelah mendapat penjelasan seperlunya, yang besangkutanpun kemudian turut mengangkat kartu oranye. Kemudian moderator menyatakan : “We have reached consensus of this proposal”. Mungkin karena matangnya persiapan mereka terutama bidang materi, maka setiap proposal yang dimintakan consensus peserta, hampir selalu direspon dengan kartu oranye (setuju). Indah sekali kelihatan ketika ratusan peserta mengangkat kartu dengan warna yang sama. Agak lain sedikit ketika saya mengikuti rapat salah satu Jemaat Uniting Church di Adelaide. Untuk mengambil keputusan mereka memakai tiga kartu. Selain warna biru dan oranye ada satu yang berwarna putih, sebagai tanda netral atau abstain. Mungkin ini diperlukan dalam pengambilan sikap atas salah satu usul Pendeta Jemaat tersebut untuk membentuk network dengan Jemaat-Jemaat tertentu. Bagusnya system kartu dalam pengambilan keputusan seperti ini ialah tidak ada suara ribut dan tidak ada tangan iseng turut diangkat, seperti yang biasa terjadi dalam persidangan Gereja kita.
6. Semuanya Utusan
Semua peserta persidangan memakai kartu peserta yang sama, karena semuanya utusan, tidak ada utusan cadangan seperti dalam persidangan Gereja kita. Hal ini juga menolong dalam pengambilan keputusan karena tidak perlu repot-repot memisahkan tempat utusan dengan utusan cadangan. Mungkin juga perlu dibicarakan dalam SSA XXII nanti, supaya dalam persidangan-persidangan Gerejawi yang lebih luas mungkin tidak perlu mengirim cadangan. Cukuplah mengirim utusan-utusan demi efisiensi dan efektivitas.
7. Pelepasan para pensiunan
Saya sangat terharu ketika dalam persidangan Sinode ini dilakukan satu acara khusus, pelepasan beberapa hamba Tuhan yang telah mencapai usia pensiun (umur untuk pensiun dalam Gereja ini juga 60 tahun). Sepertinya ada penghormatan tersendiri kepada mereka yang telah mengabdi dalam ladang Tuhan, walaupun hanya selembar kertas. Sebaliknya, dalam persidangan ini juga diaktifkan kembali beberapa pendeta pensiun (ada yang berumur 68 tahun) untuk melayani Jemaat-Jemaat selama jangka waktu tertentu. Nampak sekali fleksibilitas dari peraturan Gereja di Uniting Church.
8. Persidangan Gerejawi yang khidmat dan santun
Suasana yang tenang, tertib dalam segala hal, santun dalam berbicara benar-benar terasa dalam persidangan ini.
Saya beruntung didampingi oleh seorang Pendeta Uniting Church yang dapat berbahasa Indonesia, sehingga hal-hal yang saya kurang mengerti dapat dijelaskan. Marilah kita semua berdoa untuk pelaksanaan SSA XXII Gereja Toraja yang kita cintai, semoga berjalan dengan baik. Selamat bekerja keras bagi seluruh Panitia SSA XXII, Tuhan beserta kita.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home