Tuesday, May 02, 2006

--- Theo matasak wrote:

Pak Acis yth,
Kok sudah lama tidak ada berita-berita baru ya.
Terima kasih,
Theo Matasak

*** - SYALOM Pak Theo Matasak

Seperti Janji saya tadi malam untuk sharing hasil
rapat Panitia SSA22 yg baru saja mengadakan rapat; -
HAL yang menjadi HIGHLIGHT (selain hal-hal rutinitas
penting lainnya) adalah Masalah TATA TERTIB
PERSIDANGAN.

Buku Tata Tertib 'mungkin' sudah tersusun baik (LAW);
yang menjadi "Pertanyaan" adalah SIAPA yang akan
menjadi POLICE? (enforcement)

Moderator / Pimpinan Rapat yang handal dan beribawa
dan berwawasan luas tentu sudah dipersiapkan dan kita
semua yakin SDM Manusia TOraja Tidak diragukan lagi.
(but still need improvement in every aspect ofcourse)

Juga demikian dengan "mayoritas" Peserta Sidang
nantinya (Nama2 sudah terkumpul). Tentunya dari
kalangan Rohaniawan, intelektual, tokoh masyarakat
DLL.

Sebagai masyarakat majemuk; tentu ada saja NILA yang
bisa merusak SUSU Sebelanga ini (Jalannya Sidang)

Artinya; Teriakan 'OTAK SAPI' (sidang wilayah
Pare-Pare?? - saya hanya dengar khotbah di Jemaat Kota
bahwa Sidang Kudus tsb. masih bocor dengan kata-kata
DUNIAWI) dan juga tentunya memory 'pahit' Rapat
Majelis Jemaat bandung dengan "Teh Botolnya".

Semua ini " sangat memprihatinkan" dan pernah
disinggung ber-kali2 oleh Bp. Pdt. Dr. T.H. Kobong
STh.
-- maka Esensi dari SSAXXII ini "Berubahlah oleh
Pembaruan Budimu" mustinya berawal dari Jalannya
Sidang itu sendiri yang SANTUN dan Rahmani.

Pertanyaannya dan Keadaannya ialah;

LONGKO' TORAYA (social control) kadang mempunyai
dampak positive (hampir sama dengan budaya Japan) akan
tetapi tentu juga mempunyai sifat Negativenya.

Kembali ke Topik kita; Law and Enforcement - To Serce
and Protect.

SIAPA yang dapat menjalankan (Enforce) Law (Tata
Tertib) sidang jika "seandainya" sidang berjalan PANAS
dengan lemparan Kata Kata yang Pedis? (mudah2an bukan
botol lagi) - Longko Toraya kadang membuat kita DIAM
SERIBU BAHASA karena kita tidak mau dan tega untuk
menegur Beliau Beliau yang "menguasai" sidang dengan
kekerasan tersebut.

ROH KUDUS menyelimuti kita. Pendoa Pendoa dan Doa
Pribadi tentu sudh dipanjatkan ke Tuhan agar kita
diberi kesejukan dan Hikmat ketika kita bersidang
nantinya.

Akan tetapi apakah & siapakah kita manusia ini yang
bisa mengendalikan "semuanya" itu ketika terjadi
kebocoran yang memanaskan telinga?

Saya belum melihat ada SECURITY PROCESS. Artinya
apakah para peserta telah betul betul di screening
oleh Jemaatnya bahwa memang mereka yang layak menjadi
UTUSAN? atau Perorangan itu sendiri yang menunjuk
dirinya bahwa dialah yang PANTAS menjadi utusan
(karena telah mengirim beberapa sak semen dan atap
seng untuk pembangunan fisik gedung Gereja?)

Apakah Panitia juga telah melengkapi diri dengan
Enforcement yang dapat mem PROTECT jalannya sidang?

DOA adalah pegangan kita, Roh Kudus adalah Penghibur
kita tetapi Setan juga tentunya tidak mau tinggal diam
dan sedang bersidang untuk MENCOBA MENGHANCURKAN
rencana Persekutuan Kudus kita nanti tanggal 3 - 8
July 2006.

Doa Bapak Ketua Panitia melalui Tulisan:

"Menantikan para pelayan panggilan Tuhan." - kiranya
dapat menjadi pegangan kita dari awal persidangan
hingga akhir;

'Dalam kehidupan gerejawi kita rindu untuk menikmati
persekutuan yang indah, penuh cinta kasih, kita ingin
melihat warga gereja berlomba-lomba melayani dan
bersaksi dan melibatkan diri dalam berbagai panggilan
persekutuan sesuai karunianya masing-masing. Kita
ingin “mewujudkan damai sejahtera bagi semua” (“Let
there be peace on earth and let it begin with me”)'

Sedikit (bukan kekhawatiran) buah pikiran saja.
Salam Sejahtera!
Acis Tomasoa


Yth. Pak Acis Tomasoa,
1. Tentang Tata Tertib, saya memilih menahan diri untuk memberi komentar
karena materinya sangat teknis sehingga mudah orang berkata: "urusan apa kok
kamu ikut-ikut masalah tehnis".

2. Hanya saya berharap, jika ada peserta yang berpikiran beda dengan RANTUS
yang sudah disiapkan, jangan langsung diberi cap: "tidak gerejawi" atau
"trouble maker". Sebab itu akan menjadi mirip dengan cara "Rezim Suharto"
untuk membungkam orang-orang yang tidak segaris dengan dia.

3. Pendapat itu saya sampaikan karena: Tentu Rasul Paulus dulu adalah
"troble maker" dilihat dari sisi Imam-Imam Yahudi. Juga Marten Luther tentu
dilihat oleh Vatikan sebagai "troble maker.

4. Singkatnya RANTUS itu tetap masih suara 'manusia"; bukan/belum menjadi
Suara Tuhan.

Terima kasih,
Theo Matasak


Please Visit 'our' Website: WWW.GEREJATORAJA.COM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home