Wednesday, May 31, 2006

Yacobus Camarlow Mayongpadang
Umat Tuhan Dan Pembaharuan Masyarakat


Bahan bacaan Kitab Yehezkiel 36 : 22 - 32
Nats Kitab Yehezkiel 36 : 26 – 27

Pembacaan dari Kitab Yeheskiel tersebut dan terutama
kalau kita membaca pasal-pasal sebelumnya, menunjukkan
kemarahan Tuhan pada bangsa Israel. Tuhan marah karena
bangsa Israel tidak taat pada kehendakNya, bahkan
justru merusak kemuliaan Tuhan ( ayat 22b ). Umat-Nya
tidak mengikuti perintah-perintahNya sehingga
kelakuan, tindakan, sikap, pola hidup bangsa Israel
tidak berubah. Malah lebih memperhatikan atau lebih
hormat kepada berhala-berhala. Akibatnya orang lain
atau masyarakat umum tidak bisa membedakan mana umat
Tuhan mana masyarakat biasa. Kehidupan sehari-hari
sama saja. Padahal Tuhan berharap umat-Nya hidup
sesuai dengan kehendak, keinginan, perintah Tuhan
sehinga umat-Nya berbeda dengan kelompok masyarakat
lain. Agar ada ciri, karakter, prilaku mereka yang
berbeda dari masyarakat umum, sehingga nama Tuhan
dimuliakan.
Tuhan menginginkan perilaku manusia sesuai dengan
kehendak-Nya. Ia menginginkan sikap manusia mengikuti
kehendakNya. Tetapi untuk itu Tuhan tidak hanya
sepenuhnya menggunakan otoritas keilahian-Nya untuk
menyulap seseorang atau satu komunitas atau bangsa
berubah drastis sama dengan kehendak-Nya. Padahal Ia
memiliki kekuasaan untuk apa saja, termasuk mampu
mengubah sikap dan prilaku. Tetapi Tuhan tidak mau
dengan cara instan. Ia bekerja secara terencana dan
melalui proses dan sarana. Satu di antaranya ialah
memilih satu kaum, memperlengkapi kaum itu agar
berkehidupan sesuai dengan kehendak Allah. Itulah yang
dilakukan Tuhan memanggil Abraham keluar dari kaumnya,
(Kejadian 12:1). Itu juga yang dilakukan Tuhan kepada
bangsa Israel saat terbelenggu di Mesir melalui Musa
(Keluaran 3:10). Dan dalam konteks kekinian dan
lingkup keberadaan kita, warga Gereja Toraja, kita
mengatakan dan mengakui bahwa Tuhan juga mengutus
seorang pemuda bernama Anthony van de Lostreck pergi
ke Toraja, daerah yang sangat jauh dari Belanda,
terpencil dan terbelakang dan dengan informasi yang
sangat minim. Tetapi itulah cara Tuhan mempersiapkan
suatu kelompok/kaum.. Dan untuk itu Anton panggilan
anak muda itu tidak berpikir panjang, tidak mengomel
tetapi dengan ikhlas menyatakan kesiapan untuk
berangkat ke negeri yang begitu jauh. Itulah
rencana-rencana Tuhan untuk memilih umat-Nya.
Tujuan-Nya tak lain agar namaNYA DIMULIAKAN. Karena
itu Ia mau melalui prilaku kaum yang dipilihnya itulah
yang akan menjadi sarana sosialisasi tentang
kehendak-Nya kepada kaum yang lain. Ia mau membuat
proyek percontohan. Tuhan menginginkan agar umat
pilihan-Nya menjadi bill board, papan reklame atau
surat yang dapat dilihat dan dibaca orang lain, kaum
lain, suku lain tentang bagaimana kehendak Allah itu.
( II Kor. 3 : 3 ) .
Jadi Tuhan tidak asal memanggil Abraham. Ia tidak
sekedar mengutus Musa, dan bukan tanpa alasan sehingga
Anthony diutus datang ke Toraja. Tapi Tuhan
berkeinginan agar di dalam komunitas yang dipilihnya
itu, terpelihara cara hidup, prilaku yang sesuai
dengan keinginan Tuhan sehingga terwujud kehendak
Allah. dan melalui itu kehidupan masyarakat ( politik,
ekonomi, budaya, pemerintahan ) mengalami PEMBAHARUAN
dan nama Tuhan DIKUDUSKAN.

Apa yang terjadi ?

Dari rangkaian nats dari ayat 22 – 36 kita dapat
mencatat beberapa hal :
1. Tuhan kecewa dan marah karena akibat ulah bangsa
Israel yang tidak mencerminkan kehendak-Nya, tidak
memberi keteladanan, nama Tuhan menjadi rusak ( baca
dinajiskan ). Harapan-Nya tidak terpenuhi. Umat
pilihan-Nya membangkang. Prilaku kaum pilihan-Nya
terkontaminasi. Proyek percontohan-Nya gagal. Dalam
keseharian tidak ada perbedaan yang jelas antara
prilaku, pola hidup komunitas yang dipilih Tuhan
dengan komunitas lainnya. Semua biasa dan sama saja.
2. Melalui ulah bangsa Israel, citra kemahakudusan
Tuhan menjadi sirna, rusak, karena umat Israel sudah
dikenal sebagai umat Tuhan. (Untuk diskusi selanjutnya
perlu dipahami bahwa umat Kristen, Gereja Toraja,
adalah umat pilihan dan menyandang tugas yang sama
dengan umat Israel yakni mewujudkan kehendak Tuhan
melalui prilaku agar nama Tuhan dimuliakan).
3. Allah kemudian bertindak melakukan penyelamatan
(ayat 24 ) untuk menjaga KEKUDUSAN Tuhan melalui
perubahan dan perubahan itu berawal dari perangkat
yang mendasar dalam diri manusia yakni hati dan roh
(ayat 26 ). Jadi perubahan itu harus dari dalam hati.
Tetapi hal itu dilakukan Tuhan tidak dengan gratis
tetapi diikuti dengan syarat-syarat ; harus
......berpegang pada peraturan – peraturan-Ku dan
melakukannya. (ayat 27 )
4. Tetapi apabila ada ketaatan, Tuhan menjanjikan
berkat. (ayat 30 ).
Apakah sesungguhnya yang diharapkan Tuhan. “JANGANLAH
KAMU MENJADI SERUPA DENGAN DUNIA INI, TETAPI
BERUBAHLAH OLEH PEMBAHARUAN BUDIMU…………( Roma 12 2.)
Kamu, kita, warga Kristen, warga Gereja Toraja, tidak
boleh sama dengan yang lain dalam soal cara berpikir,
cara bertindak dan pola hidup.
Pertanyaan, apakah kehendak Tuhan itu sudah terpenuhi
dalam kehidupan umat Kristen di Indonesia. Dalam
Kehidupan kita yang mengklaim diri Anak-anak Tuhan?
Dalam kehidupan warga Gereja Toraja di tengah tengah
bangsa yang sedang mengalami krisis multi dimensi ini
? Apakah gereja-gereja di Indonesia termasuk Gereja
Toraja sudah melakukan pembaharuan. Ada baiknya kita
mengingat kembali khotbah Pdt. Dr. Theo Kobong pada
perayaan Yubelium Gereja Toraja di Rantepao 1997
mengatakan ; ”Gereja seharusnya mewarnai kehidupan
masyarakat (politik, pemerintahan, negara ) tetapi
yang terjadi ialah justru Gerejalah yang diwarnai
(dipengaruhi ).

Pertanyaan untuk didiskusikan

1. Sudahkah umat Kristen khususnya warga Gereja Toraja
berperan, berprilaku sesuai kehendak Allah dalam
kehidupan keseharian sehingga mampu melakukan
pembaharuan?
2. Kalau sudah berikan contoh-contohnya.
3. Kalau tidak, juga, berikan contohnya.
4. Lanjutan dari no. 2 ( kalau itu yang dipilih ) apa
yang harus dilakukan selanjutnya untuk lebih
mengkonkritkan, meningkatkan peran warga Gereja
Toraja ?

5. Lanjutan dari no 3. (kalau itu yang dipilih ) apa
saja yang menurut saudara menjadi faktor-faktor
penyebab sehingga warga Gereja Toraja tidak mampu
mewujudkan peran yang diamanatkan Tuhan.
6. Dalam hal yang lebih konkrit lagi tentang kehidupan
bermasyarakat, berpemerintahan misalnya, adakah
perbedaan pelaksanaan pilkada, pemilihan legislatif,
pengelolaan pemerintahan di Tana Toraja sebagai basis
Gereja Toraja dibanding dengan daerah-daerah lainnya.
7. Kalau ya berikan contoh, kalau tidak mengapa ?.



Selamat berdiskusi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home