Saturday, July 08, 2006

MEDISA - Majalah PPGT

Perubahan telah terwujud?

Perubahan yang didengung-dengungkan dan bahkan digumuli secara khusus oleh panitia SSA XXII selama dua tahun terakhir betul-betul telah menunujukkan hasil yang cukup signifikan. Perubahan itu nampak mulai dari antusiasme panitia pelaksana yang dimotori oleh pemuda yang tidak kenal lelah, bahkan sampai tidak tidur dan juga semangat dari peserta persidangan “Garis bawahi peran anak-anak muda yang sangat vital dalam kegiatan ini” kata Bapak Jonatan Parakpak yang ditemui MEDISA disela-sela jalannya persidangan SSA XII di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonsia Indah, Rabu, 5/6/06.

Lebih jauh Tokoh Masyarakat Toraja yang baru-baru diangkat menjadi rektor Universitas Pelita Harapan –UPH- ini mengemukakan signifikansi perubahan dalam sidang kali ini antara lain tercermin dari proyeksi waktu yang bisanya 10 hari, kali ini hanya ditarget 5 hari, dan memperlihatkan tanda-tanda bahwa hal tersebut akan tercapai. Disamping itu sepanjang persidangan juga tidak terdengar lagi kata-kata yang tidak sopan yang selama ini kerap mewarnai jalannya persidangan.

Menurut Parakpak semuanya ini –perubahan- boleh berlangsung karena pimpinan Tuhan, dan sekiranya hal ini dapat menuntun menuju pertumbuhan spritualitas Gereja Toraja, bahkan untuk jadi geraja lain. “saya melihat terobosan dari segi spiritualitas yang tercermin dari efisiensi dalam pengambilan keputusan dan kentalnya nuansa oriented pelayanan yang cukup kental dalam persidangan” ujar parakpak.

Senada dengan itu beberapa utusan yang ditemui Medisa merasakan perubahan yang cukup signifikan. Daud Pirade dari Balikpapan misalnya mengemukakan perubahan yang paling dia rasakan adalah pelaksanaan PA yang sangat menekankan perubahan yang diawali dari diri sendiri pribadi dan kelaurga “Saya kira salah satu yang sangat nampak adalah adalah dalam pemabahasan tatib yang hanya beberapa jam, dan juga dalam santun berbicara” ujar Daud, hal lain yang juga meninggalkan kesan mendalam bagi Majelis Gereja Jemaat Elim Balikpapan ini adalah peran pemuda dalam teknis pelaksanaan “ini perlu diteladani pada semua aras pelayanan, dan perlu majelis gereja lebih banyak “turun” dan bersama pemuda dalam persidangan dan pelaksanaan program mereka, sehingga tidak perlua ada benturan” Harap Daud.

Juni Pangalinan STh dari Jemaat Gunung Putri, Bogor juga sependapat dengan kesan adanya perubahan terutama tercermin pada jalannya persidangan yang sangat santun, yang diamini Pnt Ebenheser dari wilayah I Jemaat Maranata Patte’ne Palopo. Panatua yang juga ikut dalam SSA XXI di palopo ini menambahkan bahwa dia banyak terinspirasi oleh kata-kata bijak yang banyak dituliskan di sudut-sudut arena persidangan.

Nada berbeda disampaikan oleh Pdt Friber Mangiri STh, yang justru menyatakan perubahan hanya tinggal menjadi slogan, dan tidak melihat adanya signifikansi perubahan. Menurut pendeta yang bertugas di Wilayah I Palopo harapan yang terbersit ketika akan menuju SSA XXII ini adalah adanya perubahan pola pikir yang dimotori oleh TP3, demi pengembangan kehidupan berjemaat yang sudah ada, namun kenyataannya mulai dari rancangan tatib saja, sudah tidak mencerminkan perubahan tersebut, terbukti dari rancangan jumlah penasehat yang coba dipaksakan tidak sesuai dengan Tata Gereja Toraja, sehingga menyita waktu yang cukup lama.

Secara khusus alumni STT Intim Makassar ini menyoroti terbatasnya akses pemuda untu ikut dalam pengambilan keputusan, yang bertolak belakang dengan semangat keputusan SSA sebelumnya dimana menekankan perhatian lebih pada generasi muda.

Keluhan seragam muncul dari peserta menyangkut pelayanan teknis registrasi pada hari I yang harus berjam-jam berdesakan di depan meja sekretariat, mulai dari siang sampai jam 11 malam, bahkan ada yang hari kedua baru bisa memperoleh tanda pengenalnya. Walau demikian mereka juga memaklumi kesulitan tersebut, karena merupakan hal yang baru, mereka juga mengakui bahwa penggunaan alat canggih dalam persidangan sangat dirasakan manfaatnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home