Wednesday, September 06, 2006

SAAT-SAAT TERAKHIR BERSAMA PDT. YOHANIS SESA MAKAY

Ditulis oleh Pdt. I.Y. Panggalo

Berdasarkan Penuturan Pdt. Musa Salusu dan Pdt. Soleman Batti’

Sekitar jam 7.30, Pdt. M. Salusu melihat Pdt. J.S. Makay sedang duduk sendirian di ruang makan, dekat meja yang menjadi meja Pimpinan Sidang tadi malam. Pdt. M. Salusu pergi ke meja yang sama. Pada saat Pdt. M.Salusu sudah duduk dan mengirim SMS, Pdt. J.S. Makay berdiri dan berkata kepadanya, ”Uru’-uru’pa’ sidi’ Uca!” (Uca adalah panggilan akrab Pdt. M. Salusu di antara teman-temannya di Makassar). Lalu menarik dua kursi dan mengaturnya sampai bisa menjadi tempat yang baik untuk diurut. Setelah duduk, dia minta Uca mengurutnya. Sambil mengangkat kedua tangannya untuk diurut oleh Uca, dia berkata, ”Saya rasa tidak enak badan, mungkin karena tadi malam tidak tidur lalu mandi pagi tadi”. Sementara Uca mengurut bagian bahu dan tengkuknya, terdengar suara seperti dengkuran. Keringat mengalir dari sekujur tubuhnya. Uca khawatir. Meraba bagian kepala, tangan, dada, dan kaki. Semua sudah terasa dingin seperti, maaf, seperti jenazah. Lalu spontan teriak, ”Tolong, panggil dokter. Dokter.” Yang pertama mendengar permintatolongan itu ialah Ny.M.Bandaso’, yang segera datang ke tempat Pak Makay berada. Uca segera bergerak mencari dokter. Ny.M.Bandaso’ pun memanggil-manggil minta tolong. Waktu lihat Pdt. S.Batti’, beliau berseru, “Pak Batti’, cepat tolong, Pdt.Makay meninggal!” Pak Batti’ segera berlari menuju tempat Pdt. Makay terduduk di kursi. Waktu itu Ny. Martha Sampe juga datang dan ikut menolong. Lalu mereka mengangkat Pak Makay ke meja. Pak Batti’ langsung menggoyang-goyang badan Pak Makay sambil berkata, “Mengkilalako sang mane”. “Mengkilalako sang mane”. Kemudian datang juga Ny. Debora Paranoan (utusan dari Klasis Kaltim Samarinda), yang adalah seorang suster, segera berusaha menolongnya dengan pernafasan buatan. Pertolongan itu berhasil membuat Pak Makay bernafas kembali.

Uca tidak berhasil menemukan seorang dokter. Tetapi berhasil menyiapkan mobil ambulans. Panitia memang selalu menyiagakan sebuah mobil ambulans selama berlangsungnya SSA XXII. Pak Makay segera diangkat masuk ke mobil ambulans oleh Pdt. M. Salusu, Pdt. Barnabas dari Bonebone, dan Pdt. Karia dari Sukabumi. Ketiga pendeta ini mengantar Pak Makay ke RS UKI. Di dalam ambulans, beliau dipasangi Oksigen (O2) oleh Suster Debora Paranoan. Sementara dalam perjalanan menuju RS, Pak Makay sempat sadar dan minta air. Lalu diberi minum air aqua. Beliau juga mengucapkan berulang-ulang, “O Yesus, tolong saya! O Yesus, tolong saya!”. Di RS UKI, beliau diterima di UGD. Setelah persyaratan administrasi selesai, Pak Makay langsung dibawa masuk ke ruang ICU atas kerja sama dr. Yunus Tanggo. Tetapi kehendak Tuhan selalulah yang terbaik untuk kehidupan setiap orang. Semua usaha dokter dan perawat di ICU sudah maksimal dan berkesimpulan tidak bisa tertolong lagi. Akhirnya, teman-teman pendeta yang hadir (termasuk Pdt. D.Y. Saranga’ yang menyusul datang mengantar Pdt. Musa Tandiboyong yang juga sakit dan dibawa ke RS UKI), mendoakannya. Doa penyerahan. Mereka berdoa sambil menangis. Sekitar pukul 09.30, beliau menghembuskan nafas terakhirnya diiringi doa para sahabat, baik yang di ICU RS UKI, maupun yang enam ratusan orang sedang mengikuti ibadah penutupan SSA XXII di gedung Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta.

Kita berdoa, ”Tuhan, kuatkan dan hiburkanlah kami, terutama istri, anak-anak, dan segenap keluarganya!” Sebagai orang percaya, kita sejatinya berkata seperti Ayub, ”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

Saudara kita, Pdt. Yohanis Sesa Makay, meninggal di saat sedang melakukan tugas pelayanan dan pengabdiannya bagi Tuhan dan gereja-Nya, Gereja Toraja, bertepatan dengan pelaksanaan Ibadah Penutupan SSA XXII Gereja Toraja. Dalam ibadah ini diadakan Perjamuan Kudus. Di dalam Perjamuan Kudus, kita mengenang pengurbanan Tuhan Yesus Kristus. Dialah yang berkuasa, baik atas umat-Nya yang telah meninggal, maupun atas kita yang masih berjuang di dunia ini. Di dalam Yesus Kristus, kita dipersatukan dengan semua orang percaya yang telah meninggal.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home