SAMBUTAN KETUA BPS GEREJA TORAJA
Pada Acara Penutupan SSA XXII, Sabtu, 8 Juli 2006
Di Gedung Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!
Ketika hari ini, saya, kami, semua Badan dilantik, seorang sahabat saya yang paling dekat, Yohanis Sesa Makay, dulu sama2 sekolah, sama-sama tamat, dan kemudian meninggal juga ... meninggal juga di dalam tangan saya tadi pagi. Saya tadi pagi masih sempat mengguncang-guncang badannya kemudian mengangkat kepalanya terus dibawa ke rumah sakit. Tetapi nyawanya tidak tertolong lagi. Hampir juga Pdt. Musa Tandiboyong ikut serta. Tetapi syukurlah masih bisa ditolong dan dibawa ke rumah sakit. Seperti yang telah disampaikan Ketua Panitia, ada yang menyedihkan dan ada yang menggembirakan.
Atas nama seluruh peserta sidang dan seluruh warga Gereja Toraja menyampaikan terima kasih dan penghargaan yg setulus-tulusnya kepada Panitia Pelaksana, kepada Gereja Toraja Jemaat Kota Jakarta, dan jemaat-jemaat yang ada di Pulau Jawa, atas segala pelayanan, makanan yang enak-enak dan daging yang banyak. Karena makan makanan yang enak-enak dan daging yang banyak maka kadang-kadang darah naik, orang suka berbicara dan interupsi banyak sekali. Itulah demokrasi tertinggi. Masih ada interupsi, msh ada kata-kata yang terlalu tinggi dosisnya; kalau tidak mau dikatakan terlalu kasar, katakan saja terlalu tinggi dosisnya. Tetapi setelah selesai maka semuanya berpelukan untuk saling menerima satu dengan yang lain. Inilah istimewanya gereja dan inilah istimewanya orang percaya.
Saudara-saudara, kami semua Badan yang terpilih menyatakan terima kasih atas kepercayaan yang diletakkan di pundak kami. Saya bahagia bersama mereka semua, tetapi juga lalu kami bertanya kepada diri kami masing-masing, ”Apakah kami mampu mengusung kerinduan yang begitu besar tumbuh di dalam diri kita semua untuk membarui Gereja Toraja?”
Kita berkumpul di rumah Toraja paling besar di dunia, saat ini memuat ratusan pendeta. Kita berharap dari rumah besar ini banyak berkat mengalir ke seluruh pelosok di desa-desa, di mana Gereja Toraja melayani. 15% dan 30%. 30% jemaat pedesaan, 15% jemaat terpencil menantikan kehadiran kita sebagai Tubuh Kristus untuk saling membantu, terutama memperhatikan yang paling lemah. Adalah salah, bila kita sebagai Tubuh Kristus berkata inilah jemaat kami, kadang-kadang saya katakan, ”Mendamo umbenni jemaat to?” Ini jemaat-Nya Yesus Kristus. Lalu kalau jemaat Yesus Kristus, maka Yesus Kristus meminta kita untuk memberika perhatikan kepada yang paling lemah di antara kita. Kalau yang paling lemah kita perhatikan maka itulah pembaruan yang sesungguhnya.
Terima kasih kepada semua rekan di BPS Gereja Toraja yang bekerja bersama selama 5 (lima) tahun, tetapi melalui SSA XXII ini Tuhan akan mengarahkannya ke pelayanan-pelayanan yang mulia. Percayalah, kami sangat merindukan saudara-saudara semua, kami banyak berhutang dari saudara-saudara semua, kami banyak membuat hal-hal yang tidak berkenan bagi saudara-saudara semua. Pada saat ini kami menyatakan dengan setulus-tulus hati kami, permohonan maaf.
Juga atas nama seluruh peserta sidang, kami menyatakan permohonan maaf setulus-tulusnya kepada Panitia Pelaksana, kepada jemaat-jemaat dalam lingkungan Klasis Pulau Jawa jika kami terlalu banyak mengomel, kami terlalu banyak bicara sehingga sidang harus menjadi lebih lama; juga karena tutur kata yang tidak terlalu menggambarkan kehidupan kekristenan.
Kami bahagia melihat Jakarta, melihat teknologi canggih, melihat wajah-wajah dari PWGT yang berpakaian seragam dan semuanya cantik sekali. Dan bangga sekali melihat anak-anak muda yang cakap-cakap, sangat terampil, dan berkomitmen bagi pelayanan gereja. Terima kasih. Kita akan menjalani 5 (lima) tahun ke depan dengan semua potensi yang kita miliki masing-masing. Kami harap yang kaya dapat terus membantu dan yang miskin jangan selalu meminta-minta.
Kita saling mendoakan kiranya Tuhan menolong kita. Terima kasih dan sampai jumpa di SSA XXIII.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home